Arsitektur: Ruang Manusia Menjadi (Renungan Epistemologis Ontologis Arsitektur)

Filsafat dan Arsitektur, apa kaitannya? Pertanyaan ini mengasumsikan: memang ada kaitannya. A Drinking Fountain for All People, adalah judul penelitian penulis, yang merupakan gabungan multi-disiplin ilmu: Filsafat dan Arsitektur.

Peran Ruang Publik dalam Pengembangan Manusia, The Role of Public Space for Human Development, adalah gabungan konsep filasafat (dalam hal ini anthropological theology) dan konsep arsitektural. Human Development, dicoba digabungkan melalui pendekatan antropologis dan peran ruang publik, didekati dari sudut arsitektural. Untuk studi kasusnya, dipilih Millennium Park Chicago, suatu proyek ikonik, landmark millennium baru bagi Amerika.

Filsafat sebagai ilmu yang mendalam, bisa diterapkan di mana saja. Yang jadi persoalan justru Arsitektur. Apakah arsitektur itu ilmu? Arsitektur sebagai gabungan antara seni dan teknik, sering menimbulkan pertanyaan paradoksal, apakah ia ada di wilayah teori atau praksis? Teori dan praksis sebagai bagian dari proses deduksi induksi, bisa menjadi obyek filsafat.

Semoga tulisan ini dapat sedikit memberi gambaran kaitannya, perjumpaan antara ilmu pengetahuan dan pengalaman praktikal. Mungkin bukan hanya epistemis, tapi juga ontologis. Filsafat cenderung mengarah ke sana.